Assalaamu’alaykum..
Teman-teman, seringkali kita amati, isi televisi akhir-akhir ini semakin kurang saja mutunya. Sadarkah? Menyaingi berita, dari pagi, siang, sore, bahkan malam jutaan manusia di negeri ini dicekoki acara berisi gosip, yang entah itu benar atau fitnah. Mending kalau dibicarakan itu yang baik-baik, hampir setiap contentnya berisi gunjingan, masalah keluarga, dan aib-aib lain yang sungguh tidak patut untuk disajikan.
Saking seringnya acara bercontent seperti itu kini dianggap sudah biasa. Bahkan sebagian dari kita ada yang menganggap gunjingan bukan perkara mungkar atau haram, dengan alasan jika yang dikatakan itu memang benar terdapat pada seseorang, maka gunjingan itu tidak haram. Ckckck…
Sadarkah?
Menggunjing tentu haram hukumnya walaupun yang digunjingkan itu benar atau tidak ada pada seseorang. Hal ini berdasarkan ketetapan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika beliau ditanya tentang menggunjing beliau bersabda:
Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak suka (bila itu dibicarakan)
Ada yang bertanya, bagaimana bila yang aku katakan itu memang benar ada pada saudaranya ? Beliau menjawab:
Jika memang benar bahwa yang kau katakan itu ada padanya, berarti engkau telah menggunjingnya, jika itu tidak ada padanya, berarti engkau telah berdusta tentangnya.(1)
Diriwayatkan pula dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pada malam Isra’ beliau melihat suatu kaum dengan kuku-kuku yang terbuat dari kuningan, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku tersebut, lalu beliau menanyakan tentang mereka, kemudian dijawab bahwa mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia.(2)
Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak suka (bila itu dibicarakan)
Ada yang bertanya, bagaimana bila yang aku katakan itu memang benar ada pada saudaranya ? Beliau menjawab:
Jika memang benar bahwa yang kau katakan itu ada padanya, berarti engkau telah menggunjingnya, jika itu tidak ada padanya, berarti engkau telah berdusta tentangnya.(1)
Diriwayatkan pula dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pada malam Isra’ beliau melihat suatu kaum dengan kuku-kuku yang terbuat dari kuningan, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku tersebut, lalu beliau menanyakan tentang mereka, kemudian dijawab bahwa mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia.(2)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Hujurat: 12)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Hujurat: 12)
Mungkin dari kita masih ada yang bertanya, “Bagaimana ya kalau kita hanya menonton saja? Toh yang mencari-cari kesalahan dan membicarakan orang kan para wartawan dan host acaranya.”
Bertanya baliklah pada diri sendiri, apakah kita sama sekali tidak membicarakan lagi apa yang kita tonton kepada orang lain? Apakah dengan menontonnya tidak berarti kita turut serta berprasangka terhadap orang yang dibicarakan? Apakah dengan menontonnya tidak berarti kita menonton orang yang sedang merusak kehormatan sesama manusia? Apakah dengan menontonnya tidak berarti kita menonton seseorang yang sedang memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Wallahu a'lam bishawab
=======================================================
Pustaka:
1. Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Birr Wash Shilah (2589)
2. Hadits Riwayat Abu Daud dalam Al-Adab (4878), Ahmad (3/224)

0 komentar:
Poskan Komentar