Assalaamu'alaykum wr.wb..
Kawan, ingatkah kita akan sebuah kisah nyata mengenai sahabat Rasulullah SAW yang ingin menerima tamu namun ingin sekali memuliakan tamu tersebut dan membuatnya gembira walau ia sendiri sedang kesusahan?
Sahabat tersebut saat menjamu tamunya dengan makanan yang terbatas, secara sengaja mematikan lampu di ruang makannya, agar dia dapat berpura-pura seakan sedang ikut makan hingga tamunya menghabiskan makanan yang terhidang di depannya sampai kenyang.
Tapi ternyata Allah menurunkan wahyu-Nya yang merekam perbuatan mulia sahabat tersebut seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya,
"Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan." (QS. Al Hasyr: 9)
Perbuatan mereka tersebut mungkin remeh di mata manusia namun berat dalam hal kepahlawanan, prinsip, dan makna. Mereka lebih memprioritaskan kegembiraan saudaranya daripada kegembiraan diri sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di antara amal shalih yang paling dicintai Allah adalah memasukkan keceriaan di hati seorang mukmin, melepaskannya dari kesedihan, membayarkan utangnya, dan memberinya makan dari kelaparan. Riwayat lain dari Imam Thabrani menyebutkan,"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah perkara-perkara yang fardhu adalah memberi keceriaan kepada seorang Muslim, engkau menutupi auratnya (memberinya pakaian), engkau membuatnya kenyang ketika lapar, atau engkau memenuhi kebutuhannya,"
Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menyisipkan keceriaan ke dalam sebuah penghuni rumah dari kaum Muslimin, Allah tidak rela pahala baginya kecuali surga." (HR. Thabrani dari Aisyah r.a.)
Rasulullah SAW juga bersabda, "Siapa yang melepaskan seorang Muslim dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa orang yang memudahkan orang yang mendapat kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di kehidupan dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama si hamba mau menolong saudaranya." (HR. Bukhari)
Melihat hadist-hadist di atas Rasulullah SAW itu, maka menularkan keceriaan susungguhnya tiada lain adalah ibadah. Sepanjang kita tidak lupa menyertakannya dengan niat yang baik, perbuatan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah.
Dikutip dari Tarbawi Edisi 240 dengan beberapa tambahan.
0 komentar:
Poskan Komentar